Posted by Ade Putri on Nov 25, '05 5:41 AM for everyone

Setiap aku terbangun di pagi hari, pemandangan pertamaku adalah matanya yang masih terpejam. Dan ia begitu menarik. Bahkan ketika ia sesekali mendengus, ingin sekali rasanya aku menciumnya. Tapi aku takut ia terbangun. Maka, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku pun meninggalkannya terbaring di situ di bawah selimut kusut.

 

Setiap aku selesai mandi, kegiatan pertamaku adalah membuatkan secangkir kopi untuknya. Ia suka sekali kopi instan, dengan sedikit gula dan creamer. Berbeda denganku. Aku, begitu meneguk kopi sedikit saja, pasti langsung sakit perut. Maka, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku pun membangunkannya dengan menghembuskan wangi kopi dekat wajahnya.

 

Kalau ia sudah bangun, maka aku bisa menciumnya sedikit sebelum aku berangkat kerja. Aku tak membuatkan sarapan untuknya. Karena sepertinya ia lebih senang menyiapkan sarapannya sendiri. Maka, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia lantas berbisik, “Aku sayang kamu.”

 

***

 

Pagi ini, pemandangan pertamaku bukan matanya yang masih terpejam. Ia bahkan tidak ada di sebelahku. Maka aku mengambil handphone-ku dan mengetik SMS, “Kamu di mana, sayang?” Aku berharap ia masih membutuhkan kopi buatanku. Ia tidak membalas. Tapi sore harinya ia membalas SMS-ku, “Aku baru selesai surfing. Kangen banget. Nanti aku jemput kamu.”

 

***

 

Maka aku kembali ke rutinitas bangun pagi hariku dengan pemandangan pertamaku adalah matanya yang masih terpejam. Ia masih terlihat menarik. Bahkan ketika ia sesekali mengernyitkan dahinya, ingin sekali aku menciumnya. Ia pasti bermimpi. Tapi aku takut ia terbangun. Maka, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku pun meninggalkannya terbaring di situ di bawah selimut kusut.

 

Dan ketika aku selesai mandi, aku kembali membuatkan secangkir kopi untuknya. Ia masih menyukai kopi instan, dengan sedikit gula dan creamer. Tapi aku tak dapat membangunkannya dengan menghembuskan wangi kopi dekat wajahnya. Karena ia sudah tak ada di tempat tidur. Maka aku mengambil handphone-ku dan mengetik SMS, “Kamu di mana, sayang? Aku baru saja membuatkan kopi untukmu.” Ia tidak membalas.

 

***

 

Pagi ini, seperti beberapa pagi selama dua pekan terakhir, pemandangan pertamaku ketika aku terbangun adalah bantalnya. Kosong. Dan air yang pertama membasahi wajahku adalah air mata yang menetes untuknya. Aku merindukannya setengah mati.

 

Seperti beberapa pagi selama dua pekan terakhir, yang kulakukan adalah mengendus bantalnya. Berharap masih ada wangi yang tersisa dari rambutnya. Seperti beberapa pagi selama dua pekan terakhir, yang kulakukan adalah mengendus selimutnya. Berharap masih ada wangi yang tersisa dari tubuhnya. Dan memang masih ada, biarpun berangsur menghilang.

 

Puas menangis, aku mandi. Dan ketika aku selesai mandi, aku kembali membuat secangkir kopi, dengan sedikit gula dan creamer. Memang kubuatkan untuknya. Biarpun, sudah selama sepekan terakhir, aku sendiri yang meneguknya. Karena sakit perutku yang timbul setelahnya kadang terasa menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan daripada sakit rinduku yang kampungan ini.

 

***

 

Pagi ini, aku terbangun dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Juga air mata yang masih saja menetes untuknya. Aku memimpikannya. Aku memimpikannya bercinta dengan perempuan lain. Dan di mimpiku itu, ia memang sudah melupakan aku. Berbeda denganku. Aku, tak sanggup menghilangkannya dari pikiranku sedikit pun. Aku terlalu mencintainya.

 

Puas menangis, aku duduk di beranda depan. Dengan anjing kesayangannya duduk di pangkuanku. Dengan anjing kesayangannya menjilati wajahku. Ternyata aku belum puas menangis. Maka air mata itu kembali berlinangan membasahi wajahku. Sampai sesak nafasku. Aku merindukannya setengah mati.

 

Pagi ini tidak ada lagi secangkir kopi dengan sedikit gula dan creamer. Biarpun sakit perut yang timbul setelahnya memang kadang terasa menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan daripada sakit rinduku yang kampungan ini.  Pagi ini kulanjutkan dengan melempar pertanyaan mengenai penyebab kematiannya. Apakah ombak yang menggulungnya, atau kopi-kopi buatanku sungguh-sungguh mengandung racun mematikan. Aku sangat merindukannya.

 

***

 

Pada suatu malam sesaat menjelang aku memejamkan mata. Handphone-ku berbunyi. SMS darinya, “Aku sangat menyesal. Maaf. Aku benar-benar sayang kamu. Dan aku kangen kamu.”

 

***

 

Sial. Lebih baik aku sakit perut. Lebih baik aku sakit rindu yang kampungan. Lebih baik aku menganggapnya mati tergulung ombak. Lebih baik aku menganggapnya mati gara-gara keracunan kopi dengan gula dan sedikit creamer.

 

Daripada aku harus bangun di pagi hari dengan menerima matanya yang masih terpejam sebagai pemandangan pertamaku. Karena sahabatku sejumlah pagi berturut-turut selama beberapa pekan terakhir ini juga menikmati pemandangan yang sama. Mungkin sahabatku juga ingin menciumnya ketika ia mendengus. Mungkin sahabatku juga ingin menciumnya ketika ia mengernyitkan dahinya. Mungkin sahabatku memang menciumnya dengan sengaja untuk membuatnya terbangun. Atau mereka bahkan tak pernah tidur karena terlalu sibuk bercinta.

 

Menyedihkan. Lebih baik aku sakit perut. Lebih baik aku sakit rindu yang kampungan. Lebih baik aku menganggapnya mati tergulung ombak. Lebih baik aku menganggapnya mati gara-gara keracunan kopi dengan gula dan sedikit creamer.

 

Daripada aku harus membuatkan secangkir kopi dengan gula dan sedikit creamer untuknya lagi. Karena ini semua sudah berakhir. Biar saja aku bercinta dengan anjing kesayangannya. Lebih dari cukup. Sempurna.

 

***

 

23112005 – 01:01

Karena perselingkuhan adalah begitu nyata.

Dan begitu sulit menghindarinya.


stevemorley wrote on Dec 29, '05
wuih....keren momz,beneran......."karena perselingkuhan adalah begitu nyata Dan begitu sulit menghindarinya".--Nice!!! -tepz-
adeputri wrote on Jan 4, '06
It is true. Perselingkuhan itu sangat, sangat, sangat - ironically - manusiawi.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help